Archive for November, 2007

Sang Penjual Minyak

Monday, November 19th, 2007

 

Seorang penjual minyak
goreng keliling seperti biasa
menjajakan dagangannya di tepian Sungai
Citarum.

"Nyak nyak
minyaaaaaaaaaaaaak", teriaknya.

Di jalanan menurun tiba-tiba
gerobaknya yang penuh
dengan botol minyak tergelincir ke Sungai
Citarum.

Plung … lap  …tenggelam
deh ceritanya…
Huuuuu … huuuu …. menangislah dia
….

"Harus kuberi makan apa istriku nanti …
huuu…"

Tiba-tiba … seorang
Malaikat yang baik hati muncul
dan bertanya :

"Hai, Penjual minyak …
kenapa gerangankah sehingga engkau
menangis begitu ?"

"Oh, Malaikat … gerobak
minyak goreng saya
tergelincir ke sungai …"

"Baiklah … aku akan
ambilkan untukmu …"

Tiba-tiba Malaikat itu
menghilang dan muncul lagi
dengan sebuah kereta kencana dari
emas,

penuh
dengan
botol
dari intan …
"Inikah punyamu?" tanya Malaikat …

"Bukan … gerobakku tidak
sebagus itu … mana
mungkin penghasilan
saya yang 6 juta sebulan

bisa
beli kereta kencana?  Itu pun sudah ditambah
komisi penjualan yang cuma sedikit"

Malaikat itu
pun menghilang lagi dan muncul dengan
sebuah kereta perak dengan botol dari
perunggu.

"Inikah
punyamu?" tanyanya lagi.
"Bukan, hai Malaikat yang baik …

Punyaku cuma dari
besi biasa ..
botolnya juga botol biasa …

" Lalu Malaikat itu pergi lagi … dan
kali ini
kembali dengan gerobak dan botol Si Penjual
Minyak.

"Inikah punyamu?"
"Alhamdulillah
… benar ya
Malaikat.

Terima kasih
sekali engkau
telah
mengambilkannya untukku".

Malaikat berkata", Engkau
jujur sekali, ya….

Untuk itu sebagai hadiah …
aku berikan semua kereta dan botol tadi
untukmu …"

"???????? Alhamdulillah ….
terima kasih ya Allah
… terima kasih ya Malaikat …"

Sebulan kemudian, Sang
Penjual Minyak rafting bersama istrinya di
sungai yang sama

… Na’as tak dapat ditolak,
malang tak bisa dihindari

… Perahu karetnya terbalik
dan istrinya hanyut …

"Huuuuuuuuuuuuuuuuu u….
huuuuuuuuuuu …….
istriku … di mana engkau ….", isaknya

Tiba-tiba Malaikat pun
muncul lagi … "Kenapa lagi
engkau, ya Penjual Minyak ?"

"Istri saya hanyut dan
tenggelam di sungai, hai
Malaikat …"

"Ohhh … tenang … aku
ambilkan …"

 

Plash … Malaikat itu menghilang dan tiba-tiba muncul kembali
sambil

membawa Nafa Urbach … yang
ada tato mawar di
perutnya … "Inikah istrimu?" tanya Malaikat …

"Betul, Malaikat … dialah
istriku …"

"Haaaaaa …. Penjual
Minyak !!!" Malaikat membentak marah.

"Sejak kapan kamu berani
bohong? Di manakah
kejujuran kamu sekarang?"

Sambil bergetar dan
berjongkok … Sang Penjual Minyak berkata :

"Ya, Malaikat … kalau aku
jujur … nanti engkau

 

menghilang lagi dan
membawa Bella Saphira … kalau kubilang lagi bukan

maka engkau
akan menghilang
lagi dan membawa lagi istriku yang
sebenarnya …

Lalu engkau akan bilang bahwa aku jujur
sekali …

dan engkau  akan memberikan
ketiga-tiganya
kepadaku…

Buat membiayai hidup Nafa
saja aku bingung gimana  caranya …apalagi tiga-tiganya?
??

" Malaikat pun
termangu dan
bengong
….

       "Benar juga kamu …
kamu realistis …"

Einstein: Mendidik Manusia atau …?

Monday, November 19th, 2007

Einstein: Mendidik Manusia atau …?

Penulis : Ratna Megawangi, Ir. M.Sc, Ph.D

SEPERTI umumnya para gadis remaja, anak kedua kami yang barusia 15 tahun ingin sekali rambutnya di-rebonding, padahal rambutnya sudah lurus. Berhubung tarifnya mahal, saya suruh ia pergi ke sebuah salon di daerah Cibubur yang relatif murah. Rupanya ia sudah mengetahui informasi melalui internet mengenai salon-salon yang terkenal bagus, atau jelek dalam urusan rebonding, bahkan sampai dampak obat yang dipakai terhadap kualitas rambut. Ia menolak pergi ke salon tersebut, karena informasi yang ia baca dalam sebuah blog internet, kualitas rebonding di salon tersebut tidak bagus.

Berhubung saya hanya mau membayar 50 persen saja, ia melakukan browsing secara intensif, dan akhirnya ia memutuskan untuk memakai jasa sebuah salon yang ta-rifnya cukup murah, tetapi kualitasnya bagus.

Rupanya anak terkecil kami pun (usia 7 tahun), sudah mulai menjadi seorang yang tidak mudah dipengaruhi juga. Ia bersama kakaknya "berkonspirasi" untuk mempengaruhi kami agar mau memelihara anjing di rumah. Mereka sebut beberapa jenis anjing yang bagus, lagi- lagi belajar dari internet, dan akhirnya memutuskan untuk membeli anjing yang pintar untuk dilatih serta bersahabat dengan anak-anak, yaitu jenis Golden Ret River.

Saya sendiri baru mendengar nama jenis tersebut, tetapi menurut informasi harganya cukup mahal. Kemudian saya ajak mereka ke sebuah tempat di daerah Menteng untuk membeli anjing di pinggir jalan yang pasti harganya lebih murah.

Mereka mengetahui betul bentuk anjing jenis tersebut, sehingga ada 4 penjual yang gagal membohongi mereka. Sampai yang mirip sekali pun, tetapi karena bentuk kupingnya berbeda, mereka mengetahuinya.

Setelah bernegosiasi, dan kedua anak kami mau patungan menyumbang dari uang tabungannya Rp 500.000, akhirnya saya menyerah untuk membelinya di pet shop yang harganya Rp 2 juta, karena kemurnian ras anjing tersebut dijamin oleh sertifikat.

Dalam beberapa hal, saya akui anak-anak kami lebih pintar dan well- informed daripada orangtuanya, sehingga kami sering "kalah" ketika harus mengambil keputusan karena informasi yang diperolehnya lebih lengkap. Anak pertama kami yang sekarang sudah semester 7 di Fakultas Hukum UI, sejak kelas 1 SMA juga sudah memutuskan sendiri untuk masuk ke IPS, sehingga ia tidak mau "membuang" waktunya untuk belajar sesuatu yang ia tidak akan dipakainya, seperti Fisika, Kimia dan Biologi. Akibatnya, nilai yang diperolehnya hanya pas-pasan saja.

Diminati Siswa

Namun, waktunya ia lebih banyak gunakan untuk belajar sesuatu yang lebih menarik minatnya, seperti belajar komputer, organisasi, dan membaca segala macam buku yang tidak ada hubungannya dengan tugas sekolah. Kelas 1 SMA (tahun 1999) ia mengajak beberapa kawannya untuk merintis bidang ekstra kurikuler baru di sekolahnya, yaitu FORTEK (forum teknologi), yang semuanya diusahakan melalui survey kelayakan (ada 100 kuesioner tersebar), seminar, dan presentasi di depan sponsor, sehingga memperoleh 6 perangkat komputer. Bidang tersebut sampai sekarang masih ada, bahkan paling banyak diminati siswa.

Rasanya tidak ada satu pun guru yang memujinya, karena memang angka rapornya biasa-biasa saja, bahkan ada juga nilai merahnya (boro-boro dapat ranking). Namun baginya tidak ada masalah, dan ia memang berpikir strategis. Menurutnya, apabila sistem ujian nasional dan masuk perguruan tinggi adalah seperti sekarang, maka dengan sistem kebut drilling beberapa bulan terakhir sebelum ujian, katanya masih bisa ia kejar.

Jadi, ketika hampir seluruh kawan-kawannya sudah sibuk ikut les sekolah dan bimbingan tes sejak kelas 1 SMA, bahkan sampai banyak yang stres, ia menolak untuk mengikutinya karena mau memakai waktunya untuk mempelajari hal-hal yang diminatinya sendiri. Baru ketika 6 bulan menjelang ujian akhir SMA, ia mau ikut les.

Sejak SMP ia memang sudah senang membaca buku-buku serius seperti karangan Maurice Bucaille, buku-buku filsafat Jabariah dan Badariah, bahkan sekarang ia sedang senang-senangnya mengikuti perkembangan harga pasar saham dan pasar uang, karena ia menginvestasikan semua tabungannya yang Rp 3 juta di reksadana. Semuanya ini ia peroleh dari belajar sendiri, bukan dari sekolahnya.

Perjalanan anak-anak kami masih panjang, sehingga kami belum tahu apakah mereka berhasil nantinya. Namun paling tidak, kami telah berusaha untuk mempersiapkan mereka untuk menjadi manusia yang berpikir kritis dan mandiri, tidak mudah percaya dan diprovokasi, bisa mencari informasi dan mengolahnya sendiri, sehingga nantinya bisa mencari solusi terhadap berbagai masalah dalam hidupnya, serta mudah beradaptasi dengan lingkungan yang cepat berubah.

Tentunya juga dengan membekali mereka tentang prinsip-prinsip nilai dan etika. Terus terang, kami memang "melarang" anak-anak kami untuk mendapatkan ranking, karena sistem ini akan membuat seseorang terperangkap untuk mempertahankannya, sehingga mereka hanya mampu berpikir dangkal, pragmatis, dan tidak kritis, akibat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal yang jawabannya sudah baku sesuai dengan rumus.

Menurut Albert Einstein, dengan hanya mengajarkan anak menghafal mata pelajaran, tidak ada bedanya dengan melatih seekor anjing. Menurut Einstein, "With his specialized knowledge-more closely resembles a well-trained dog than a harmoniously developed person."

(Ternyata benar, dengan cara mengulang berkali-kali, anak kami sudah dapat melatih anjingnya yang berusia 4 bulan untuk duduk, loncat, dan salaman). Bukan berarti metode menghafal dan drilling tidak perlu (kognitif), tetapi dimensi lainnya juga harus dikembangkan (sosial, emosi, motorik, spiritual, dan kreativitas), sehingga seluruh dimensi manusia dapat berkembang secara seimbang (harmonis).

Namun, semua metode pelajaran di sekolah hanya diarahkan agar anak- anak dapat menjawab ujian, yang bentuknya memang hafalan, sehingga potensi-potensi lainnya tidak berkembang secara harmonis.

Albert Einstein sudah memberikan warning akan bahayanya sistem pendidikan yang terlalu menjejalkan anak dengan banyak mata pelajaran, yang menurutnya dapat membuat anak berpikir dangkal, bukan seorang yang independent critical thinker (New York Times, October 5, 1952).

Menurutnya, "It is also vital to a valuable education that independent critical thinking be developed in the young human being, a development that is greatly jeopardized by overburdening him with too much and with too varied subject (point system). Overburdening necessarily leads to superficiality. Teaching should be such that what is offered is perceived as a valuable gift and not as a hard duty."

Kalau kita melatih seseorang untuk mempunyai fisik kuat, baik dengan olahraga atau berjalan kaki, maka dengan kekuatan fisiknya ia akan fit bekerja di mana saja yang memerlukan kekuatan fisik. Begitu pula, apabila kita mempersiapkan seorang anak untuk dapat berpikir kritis, selalu ingin tahu, dan mampu mengolah informasi, maka ia akan berhasil dalam pekerjaan apa saja yang memerlukan orang berpikir.

Apalagi di masa depan apabila semakin banyak orang yang mempunyai akses terhadap internet (lima tahun yang lalu mungkin kita tidak membayangkan kalau hand phone bisa dipakai secara massal sampai ke desa-desa. Hal yang sama sangat mungkin terjadi dengan internet, seperti yang sudah terjadi di Korea).

Artinya, tanpa menghafal pun, segala informasi dengan mudah dapat diakses.

Mungkin ilmu yang didapat di sekolah banyak yang tidak terpakai dalam kehidupan anak kita nanti. Apalagi jaman akan terus berubah dengan cepat, sehingga apa yang dipelajari sekarang ini, mungkin saja tidak terpakai dalam kehidupannya di masa depan nanti. Padahal sudah dipelajari dan dihafalkan mati-matian, sampai banyak yang stres dan mengalami masalah kejiwaan.

Menurut Peter Senge, sekolah-sekolah yang mendidik siswanya untuk patuh begitu saja kepada pihak otoritas dan mengikuti peraturan tanpa mempertanyakannya - tidak bersikap kritis - akan gagal menyiapkan para siswanya untuk menghadapi dunia tempat tinggal mereka yang kerap berubah.

Jadi, kalau kita mau menyiapkan anak-anak kita untuk cakap hidup di zamannya kelak, jangan biarkan mereka terperangkap dengan cara yang hanya bisa berpikir sesuai dengan yang telah diprogram (hafalan dan drilling), yaitu tidak kreatif, tidak kritis, tidak berani mengambil risiko, tidak proaktif, dan apatis.

Kasihan mereka, karena mereka harus hidup di masa depan yang begitu cepat berubah, sangat kompleks, serta penuh tantangan dan beban. Seperti kata Einstein, mereka adalah manusia, bukan well-trained dog.

HANYA MEMBERI, TAK HARAP KEMBALI, BERIKAN KEPADA YANG LAIN

Monday, November 19th, 2007

Ada sebuah film bagus yang luput dari
perhatian media yang berjudul Pay It Forward., dimainkan oleh dua pemenang
“academy awards”, Helen Hunt dan Kevin Spacey, dan seorang pemain cilik Haley
Osment, yang berperan sebagai Trevor, seorang anak yang mempunyai ide hebat
untuk mengubah dunia. Kami tidak akan bercerita secara panjang lebar, siapa tahu
anda ingin mencarinya di toko VCD, tetapi kami akan mengulas sedikit mengapa
film ini bagus untuk dijadikan contoh pendidikan karakter untuk segala usia.

Menerjemahkan “Pay It Forward” ke dalam
bahasa Indonesia agak sulit, dan dalam teks terjemahan yang ada dalam VCD yang
beredar di Indonesia diartikan sebagai “Bayar Dimuka”, dan ini adalah keliru.
Mungkin dengan penjelasan berikut ini kita akan lebih mengerti konteksnya.
Bayangkan kalau anda menolong seseorang dan anda katakan padanya untuk tidak
membalasnya (Pay It Back), tetapi membalasnya kepada orang lain (Pay It
Forward). Inilah pesan mendasar dari film ini yang digambarkan dengan alur
cerita yang begitu menyentuh hati.

Diceritakan bahwa seorang anak usia 11
tahun, Trevor, mendapatkan tugas dari gurunya untuk membuat sebuah proyek yang
dapat mengubah dunia menjadi lebih baik. Trevor mendapatkan sebuah ide yang
jenius, yaitu bagaimana membuat sebuah kebaikan berantai. Ia merencanakan untuk
berbuat baik kepada tiga orang, dan masing-masing yang ditolong Trevor,
diharapkan dapat membalas kebaikannya kepada tiga orang lain, dan seterusnya
setiap orang yang menerima kebaikan diharapkan dapat “pay it forward” kepada
tiga orang lainnya, sehingga penyebaran kebaikan ini bisa begitu meluas.

Apakah ini suatu yang mustahil? Menurut
Trevor, tidak. Alur cerita untuk melakukan kebaikan ini memang tidak digambarkan
secara mulus, tetapi penuh dengan rasa kesedihan, kekecewaan, dan juga rasa
kemenangan yang menyertai Trevor yang mempunyai komitmen agar proyek “pay it
forward”nya bisa berjalan. Bahkan ia rela mengorbankan ‘hidup’nya sendiri demi
keyakinannya akan ide “pay it forward”. Trevor boleh puas, walaupun ia tidak
melihatnya, apa yang dilakukannya ternyata telah mempunyai dampak yang sangat
berarti, dan mungkin dapat membuat dunia menjadi lebih baik.

Senantiasa berbuat baik tanpa pamrih
memang memerlukan suatu sikap mental yang bertolak belakang dengan kebiasaan
manusia jaman moderen. Mungkin banyak diantara kita tergerak untuk berbuat
kebajikan karena ada alasan-alasan tertentu yang orientasinya untuk kepentingan
diri juga. Kita mau memberikan sesuatu, asal kita juga mendapatkan sesuatu
sebagai imbalan, entah itu dalam bentuk materi atau non-materi. Apakah ini tidak
baik? Belum tentu, dan berikut ini penjelasannya.

Bayangkan ada sebuah garis yang
menghubungkan dua titik ide yang akan menentukan arah pembentukan karakter kita;
(A) Berikan apa yang dapat diberikan kepada dunia,, dan (B) Ambil apa yang dapat
diambil dari dunia. Kedua ekstrim ini dapat menjadi pedoman untuk kita
senantiasa bertanya kepada diri sendiri, apakah kita akan menjadi “pemberi” atau
“pengambil”. Ide “pay it forward” adalah perilaku untuk selalu berbuat kebajikan
yang akan mendatangkan kebaikan berantai yang bernuara pada titik
A.

Semakin banyak memberi atau berbuat
kebajikan kita akan memberikan nilai tambah (added value) kepada dunia. Sekecil
apa pun, bahkan memungut paku dari jalan juga adalah perbuatan yang mendatangkan
nilai tambah. Seorang petani yang bekerja keras menanam padi di sawah, adalah
seorang pelaku kebajikan karena added value yang diciptakan banyak sekali. Dari
sebidang lahan kosong, ia dapat menciptakan nilai tambah yang ia dapat pakai
untuk menafkahkan seluruh keluarga, juga mensuplai pangan bagi penduduk di kota,
kontribusi pada GDP, dan seterusnya dengan efek ‘multiplier’nya. Segala
perbuatan yang mendatangkan manfaat bagi lingkungan adalah perbuatan amal
shaleh.

Sebaliknya, kalau kita mengambil banyak
dari dunia dan ternyata mendatangkan kerugian bagi lingkungan fisik dan sosial,
maka kita akan mengadakan kerusakan di muka bumi (destroyed value). Seorang
pengusaha yang diberikan HPH, kalau ia menebang hutan lebih banyak dari yang ia
tanam kembali, maka ia adalah pelaku destroyed value. Perbuatan memperkaya diri
dengan tidak halal, seperti me’mark-up’ nilai proyek, menerima suap, menjadi
rentenir, pencari rente, atau calo jabatan untuk mencari keuntungan, adalah juga
bentuk dari perilaku yang akan mendatangkan kerusakan di muka bumi, termasuk
efek ‘multiplier’ negatifnya. Perbuatan yang mendatangkan kerugian dan
kerusakan, adalah perbuatan mungkar.

Bagaimana dengan Bill Gates, apakah ia
melakukan added value atau destroyed value? Kekayaan Bill Gates mencapai 60
milyar dollar, tetapi added value yang diciptakannya pada masyarakat dunia
ratusan atau ribuan kali dari jumlah tersebut. Coba bayangkan kalau kita masih
memakai teknologi mesin ketik.

Jadi, kalau suatu kaum atau bangsa
mengalami penderitaan karena telah terjadi kerusakan dalam berbagai segi
kehidupan, maka sudah dapat dipastikan bahwa perbuatan manusia yang memberikan
nilai tambah kepada dunia jauh lebih sedikit daripada yang membawa kerusakan.

Secara sederhana, kualitas karakter kita
dipengaruhi oleh pertanyaan terus menerus kepada diri kita, “apakah perilaku
saya mendatangkan added value atau destroyed value?” “Apakah saya senantiasa
ingin mengambil dari apa yang saya rasa dunia berhutang kepada saya, atau apakah
saya selalu ingin “pay it forward”, karena saya merasa berhutang banyak kepada
dunia?”

Konosuke Matsushita - Andai tak dicoba

Monday, November 19th, 2007

Di pabrik Matsushita kami disuguhi berbagai produk paling baru seperti HDTV, home theatre, film 3D, hingga ponsel WCDMA ber MP3 yang sangat jernih bunyi musiknya (ini tahun 2001, saat ponsel Nokia yang kubawa masih berlayar hijau!). Jelas sangat mengesankan. Namun masih ada yang lebih mengesankan, yaitu saat kami mengunjungi museum Matsushita. Bagi rekan serombongan mungkin museum ini tak terlalu mengesankan, sebaliknya bagi saya justru sangat mengesankan. Museum ini menceritakan kisah awal Matsushita membangun perusahaannya. Perusahaan yang kini hampir seabad berdiri (dimulai 1917 saat usia masih 22 tahun) ternyata dimulai dari membuat fitting lampu! (Hal ini semakin meyakinkan diri saya bahwa sesuatu yang besar awalnya dimulai dari sesuatu yang kecil!)

Salah satu kisah lain yang mengesankan adalah saat dia bertahan tidak mem-PHK karyawan sewaktu resesi ekonomi melanda Jepang. Untuk menghemat biaya, Matsushita memberlakukan kerja setengah hari dengan gaji tetap tidak dipotong. Tujuannya adalah membatasi overhead saat permintaan barang menurun, sambil berusaha keras menjual persediaan di gudang. Kisah ini sangat berkesan di hati saya, karena menunjukkan sikap Matsushita yang humanis dan sungguh bijaksana. Pulang dari kunjungan tersebut, Matsushita langsung menjadi salah satu hero saya (dan menjadi inspirasi bagi saya untuk memulai beberapa usaha).

Suatu ketika saya mendapatkan buku berjudul “Matsushita Konosuke : Pegawai Toko Sepeda yang Menjadi Raja Elektrik Jepang” terbitan Grasindo, cetakan kedua 2004. Saya sudah tahu bahwa Matsushita tidak pernah sekolah formal dan berasal dari keluarga miskin. Setelah membaca buku itu baru jelas bahwa dia sebenarnya berasal dari keluarga tuan tanah, namun ayahnya bangkrut saat spekulasi bisnis beras yang membuat keluarganya jatuh miskin. Matsushita kecil kemudian bekerja di toko sepeda, lalu pindah ke perusahaan instalasi listrik. Pernah dia mengambil kelas teknik malam hari, tapi tidak tamat.

Dari buku itu saya baru tahu bahwa ketika Matsushita mulai merintis perusahaannya sendiri, ternyata produk fitting lampu buatannya itu… gagal! Namun bisnis gagal tersebut mengantarnya mendapat bisnis lain yang kemudian menjadi cikal perusahaan besar Matsushita Electric. Inilah kisah kegagalan Konosuke Matsushita yang saya cuplikkan dari buku tersebut.

Matsushita keluar dari perusahaan intsalasi listrik tempat dia sudah bekerja selama 7 tahun. Alasannya, jabatan sebagai petugas pemeriksa yang bergaji besar dengan pekerjaan ringan justru membuatnya merasa bosan. Rekan-rekannya merasa aneh dengan sikap Matsushita itu.

Kemudian bersama 2 rekan, yaitu Hayashi dan Morita, serta 1 adik ipar yaitu Toshio, Konosuke Matsushita membuat pabrik fitting lampu pada bulan Juni 1917. Ternyata mereka belum tahu dari bahan apa adonan hitam untuk fitting tersebut. “Mungkin adonan itu terdiri dari aspal yang dicampur bubuk batu dan asbes,” pikir mereka. Setelah dicoba ternyata gagal. Maka mereka berkeliling bertanya ke pabrik lain untuk mencari tahu adonan hitam bahan fitting tersebut. Tentu saja ditolak! Diam-diam Konosuke dan Hayashi memungut pecahan adonan yang sudah mengeras dan menelitinya sendiri. Tapi semuanya itu sia-sia.

Tak lama setelah itu mereka mengetahui ada seorang kenalan Hayashi yang dulu melakukan penelitian tentang adonan hitam tersebut. Teman itu ternyata sudah tak berminat lagi membuat adonan hitam, maka dia mengajarkan semua yang pernah ditelitinya kepada Konosuke dan Hayashi. Semuanya itu membuat keduanya merasa terbang ke awan karena gembira.

Pada pertengahan Oktober tahun itu sedikit demi sedikit fitting lampu bisa diselesaikan. Sayang sekali, ketika berusaha menjual fitting tersebut ke pedagang pengecer ternyata harganya tidak bagus. Untuk 100 buah fitting lampu hanya dihargai tidak lebih dari 10 yen. Belum lagi penolakan dari banyak pedagang karena pabrik Konosuke masih baru. Setelah 10 hari menawarkan dan kurang berhasil maka pada akhir bulan Oktober kedua rekan Konosuke undur diri dari bisnis tersebut.

Bulan November tiba, Konosuke terus membuat fitting lampu dengan modal yang terus menipis. Konosuke mulai ragu. Bulan Desember pun tiba. Tetapi Konosuke belum tahu barang elektronik apa yang sebaiknya dibuatnya. “Mungkin sebaiknya aku balik lagi bekerja di Perusahaan Listrik Osaka. Tapi… nggak enak juga minta tolongnya,” pikirnya diam-diam demi kebaikan Mumeno, istrinya.

Pada suatu hari Konosuke didatangi oleh seorang pegawai perusahaan alat listrik. Orang itu meminta tolong kepada Konosuke, katanya, “Kami ingin Bapak membuat tatakan kipas angin dari adonan hitam bahan pembuat fitting.”

“Tatakan kipas angin? Apa itu?” tanya Konosuke.

Kemudian orang tersebut menceritakan tentang dudukan kipas angin tempat menaruh tombol-tombol. Dia mengeluarkan barang contoh, sebuah benda bulat dengan diameter 10 senti, tebalnya 1 senti, dan berlubang di tengahnya. Selain itu ada kira-kira 10 lubang kecil lainnya di beberapa tempat. “Seperti Bapak lihat, tatakan ini kurang baik. Karena terbuat dari porselen jadi mudah pecah. Untuk itu pabrik kipas angin Kawakita Denki ingin mencoba menggantinya dengan tatakan yang terbuat dari bahan pembuat fitting lampu. Kira-kira bagaimana Pak, apa Bapak bersedia membuatnya?”

“Kira-kira berapa banyak?” tanya Konosuke.

“Untuk percobaan, tahun ini sekitar 1000 buah. Kalau hasilnya baik, tahun depan dan tahun-tahun berikutnya bisa 20-30 ribu buah,” jawabnya lagi.

Jadi, 20-30 ribu buah pertahun? Mendengar itu Konosuke langsung menyanggupi tawaran itu. Konosuke gembira sekali.

Bulan Desember tahun itu Konosuke berhasil memenuhi pesanan 1000 tatakan dengan bayaran 160 yen. Hitung-hitung untungnya adalah 80 yen. Berbeda dengan fitting lampu, tatakan itu tidak memerlukan bahan logam, sehingga biaya produksinya lebih rendah. Pesanan tatakan kipas angin itu terus datang tanpa henti, sehingga keuntungan yang didapat Konosuke pun semakin banyak. Selanjutnya Konosuke mulai membuat ‘attachment plug’ yang digunakan untuk memasang lampu dengan mengambil listrik dari lampu lain. Kemudian Konosuke membuat fitting 2 lampu yang bagus, bahkan mendapat paten dari kreasi tersebut. Lalu fitting 3 lampu. Kemudian bikin lampu sepeda, lalu radio, dan seterusnya menjadi perusahaan pembuat barang elektronik dan peralatan listrik yang sukses.

Get the point? Bagaimana hasil akhirnya kalau Konosuke tidak belajar membuat fitting lampu? Siapkah dia dengan pesanan tatakan kipas angin itu? Mungkinkah pesanan tatakan itu datang ke dia? Memang manusia hanya bisa berusaha sebaik-baiknya, Tuhan akan menjawab dengan cara-Nya yang halus, sering dengan kesempatan dari arah yang tak disangka.

Konosuke Matsushita. Andai tak dicoba membuat fitting lampu ….

A frail, sickly bicycle apprentice who survived unspeakable childhood tragedy, Konosuke Matsushita lacked formal education, wealth, charisma, connections and even a special talent. Yet, early hardships produced hidden strengths which opened Konosuke Matsushita’s mind to the collective wisdom of others. The author reveals how a lifelong thirst for learning fueled the passion that led this humble, shy 5-foot-5-inch humanitarian idealist to pioneer management practices and advance his philosophy that the mission of a manufacturer is to relieve poverty and create wealth, not only for shareholders, but for society.

Excerpt from the book entitled “MATSUSHITA LEADERSHIP” by Dr. John P. Kotter, Professor of Leadership at the Harvard Business School.

Si Tole dan Tangisannya itu

Monday, November 19th, 2007

”Akhirnya ada juga
Le Bis yang lewat. Kita pulang Le…
Ya..Allah, kok ya tega ya…nda mau
berhenti.
Sabar ya..Le, insyaAllah akan ada lagi Bis yang lewat. ”

Bayi lelaki berumur
sebelas bulan itu hanya tersenyum senyum mendengar perkataan ibunya. Kembali Ibu
itu melambaikan tangannya kepada Bis yang lewat tapi… tetap saja Bis itu tidak
mau berhenti. Bayi itu tertawa,

”Le…le…kok kamu bisa
bisanya tertawa, ”
bayi lucu itu tidak mau tahu teriknya mentari saat
itu.
”Alhamdulillah…ada juga yang berbaik hati mau berhenti. ”
”Cepet
Bu cepet ! ” ujar kondektur.

”Ya Allah, Bis nya
penuh Le.tapi ga apa apa, yang penting kita bisa pulang Le. ”
”Jogja ,
jogja.. ! ”teriak sang kondektur mencari penumpang.
”Lha wong sudah penuh
sesak begini kok masih cari penumpang. ”
”Mas ! Pie toh mas, sesak begini
kok. ! ‘’salah seorang penumpang geram.

Tiba tiba bayi
lelaki itu menangis.
”Aduh Le, jangan nangis toh Le”
Tapi bayi itu makin
keras tangisnya. Suasana panas saat itu makin membuat para penumpang tidak
nyaman, apalagi dengan kondisi penuh sesaknya manusia didalam bis
tersebut.

”Bu, anak e bisa
disuruh diam nda sih ? ”ujar salah seorang penumpang disebelahnya.
”Maaf pak,
maaf. ”
”Huh, udah banyar mahal mahal, tapi kaya begini. ‘’salah seorang lagi
marah marah.
‘’saya ini mau tidur, disuruh diam bisa nda sih. ” ujar seorang
ibu ibu gemuk dibelakangnya.
”Hey, anak siapa itu, macet begini bikin pusing
saja. ” teriak pak sopir.
”Suruh turun saja pak sopir” teriak penumpang
belakang.
”Iya, turuni saja. Wong sudah sesak begini kok. ” tambah yang
lain.
”Kalau anak itu nda mau diam, lebih baik kalian turun saja. ”ujar pak
kondektur.

”Bapak bapak, Ibu
ibu, siapa yang nda setuju kalau ibu ini disuruh turun ? ” tanya salah seorang
penumpang sambil berdiri.
Semua terdiam.
”Suruh turun saja. ‘’salah
seorang kakek berkata.
”Ibu turun saja disini. Cari bis yang lain saja.
”kondektur berkata

”Maaf bapak bapak
ibu ibu, kalau anak saya ini mengganggu, tapi anak ini kan masih kecil, belum
mengerti apa apa. Tolonglah kami. Tolong. ”
”Wah, nda bisa Bu, anak ibu ini
main kenceng saja nangisnya. Disini banyak penumpang yang mau istirahat. ”tambah
pak Kondektur.

Dengan tidak hormat,
Ibu dan anak itu dipaksa turun dari bis.

”Ya…Allah, kok ya
ada manusia manusia seperti itu. Kok ya nda kasihan sama anak bayi
ini.
Le…le..kamu tuh bikin susah ibumu saja le. ”

Dengan tertatih, ibu
itu mencoba menyetop mobil yang lewat saat itu sambil berjalan berkilo kilo
meter. Dan sampai akhirnya…

”Lho, ibu mau
kemana, sudah hampir gelap begini kok. Kasihan anaknya.”
”Maaf, dek. Boleh
ibu menumpang sampai kota”
”Oh tentu tentu. Masuk Bu ! ”
”Ternyata masih
ada anak muda baik hati seperti adik ini ya…”

sibayi itu tertawa
tawa ketika mereka menumpang dimobil itu.
”Ibu ini sebenarnya mau kemana toh
? ”
”Saya mau ke Jogja, mau pulang. ”

”Wah, kebetulan
kalau begitu, saya juga mau kerumah mbah yang ada di Jogja. Kalau begitu saya
antar ibu sampai rumah, kasihan bayi ne. ”
”tapi saya masih bingung, kenapa
kok ya bisa ibu ini sendirian ditengah sawah tadi ? ”
”Oh, saya itu juga
bingung dek, kok ya ada orang yang tega menurunkan saya, gara gara anak saya ini
terus terusan nangis. ”
”Masa sih bu ? ”
” Wah, kalau itu kebangetan toh
bu. ”

beberapa jam
kemudian.

”Wah, ada apa ya…kok
nda biasa biasanya macet begini.
Mas mas, aqua nya satu mas.
‘Mas, ada apa
toh mas, kok bisa macet begini ? panjang ya mas macet nya? ”tanya anak muda
itu.

”Wah iya mas,
katanya ada kecelakaan bis didepan sana. ”jawab penjual minuman.
”Oh…terimas
kasih ya..mas.
Ini bu, kalau ibu haus. ”

* * *

”oh, ini toh bisnya,
ya..Allah bisnya hangus terbakar, oh pantes. Tabrakan dengan truk besar. ”heran
anak muda itu.

Prit prit
prit……..seorang polisi sedang mengatur jalannya arus lalu lintas yang macet
itu.
”Pak ada yang selamat pak ? ”
”Kasihan dek, semua penumpang dan
sopirnya tewas. ”
”ya…Allah, alhamdulillah. Le..kamu untung kamu nangis le.

”lha kok, ibu malah alhamdulillah wong ada musibah seperti ini kok. ”

Dek, ini lho dek bis yang ibu naiki itu. ”
”Ha, yang bener toh bu ?

” Ya…Allah. kalau
begitu anak ibu ini sudah menyelamatkan ibu lho. Itu adalah kasih sayang Allah
bu, lewat anak ibu ini.”
” ya..Allah, apa jadinya kalau saya dan anak saya
masih menumpang bis itu ya…dek, alhamdulillah alhamdulillah…”

~ Diambil dari kisah
nyata ~

Sesungguhnya Allah
itu maha mengetahui apa apa yang terbaik untuk hambanya. karena itu pandai
pandailah mencari Hikmah dibalik sebuah musibah dan ingat lah selalu untuk
bersabar. Karena Allah selalu bersama orang orang yang sabar.

It’s about luck

Monday, November 19th, 2007
Bill Gates dari Microsoft
beruntung, IBM tidak menyadari betapa hebatnya masa depan komputer pribadi.
Karena itu IBM setuju untuk membayar jasa pembuatan sistem operasi MS-DOS
sebesar 1 juta dolar, sementara Bill Gates boleh tetap menjualnya ke pihak lain.
Sepuluh tahun kemudian Bill Gates menjadi orang terkaya di dunia.

Steve Jobs dari Apple juga beruntung.
Para petinggi Xerox tidak tahu bahwa benda bernama ‘mouse’ dan GUI (Graphical
User Interface) yang dibuat oleh para jenius Xerox adalah harta karun tak
ternilai yang terpendam. Xerox dengan ringan hati memberikannya kepada Apple
keberuntungan jutaan dolar dengan lahirnya Macintosh yang menggunakan mouse
tersebut.

Demikian pula disampaikan John Beck
penulis DoCoMo, Japan’s Wireless Tsunami bahwa menurut para pendiri
DoCoMo mereka bisa sukses karena keberuntungan. DoCoMo beruntung karena punya
pemimpin visioner Keiji Tachikawa, presiden perusahaan yang tidak sabaran Kouji
Ohboshi, anak buah yang punya daya kreasi meluap Keiichi Enoki, juga talenta
tinggi Mari Matsunaga. Dalam satu kondisi yang unik mereka mampu melejitkan
DoCoMo dari divisi telepon di dalam mobil yang merugi, menjadi perusahaan telpon
seluler yang paling berhasil berjualan data melalui layanan i-mode dan FOMA
(yang hingga sekarang masih gagal ditiru perusahaan lain di dunia).

Bagaimana mereka bisa
beruntung? Mengapa perusahaan seluler sejenis DoCoMO di Amerika maupun Eropa
gagal mengambil keuntungan serupa padahal mengeluarkan biaya investasi yang juga
sama besar? Jawabnya, kata John Beck, adalah keberuntungan. It’s about luck.
DoCoMo beruntung internet belum populer di masyarakat Jepang waktu itu.
Beruntung pula sedang terjadi krisis ekonomi sehingga perbankan sangat antusias
menyambut sistem pembayaran melalui i-mode. Beruntung juga belum ada standard.
Beruntung memilih c-HTML dan bukan WAP sebagai format i-mode. Juga beruntung
dengan adanya kartun Bandai di Jepang.

Dan inilah dia, Bandai lah nyawa tak
disangka dari i-mode. Sebelumnya para ahli strategi bisnis i-mode menembak
sasaran para profesional yang memerlukan layanan perbankan. Layanan ini disambut
antusias, namun tidak banyak. Yang justru populer adalah hal remeh yang
sebelumnya tak disangka : ringtone dan screensaver. Dan para ahli strategi
bisnis DoCoMo segera menerima kenyataan, layanan ideal dan keren buat para
profesional itu bukanlah penggerak utama. Justru layanan kelas rakyat yang
kurang keren bernama ringtone dan screensaver itu. Lalu Bandai datang dengan tak
disangka, mereka punya produk mainan semacam berjudul WonderSwan yang merupakan
networking game dan bisa dimainkan lewat internet. WonderSwan inilah killer
application seperti halnya spreadsheet VisiCalc di jaman awal munculnya PC.
Sejak saat itu Bandai menjadi terdekat i-mode DoCoMo.

Andai DoCoMo lahir di
Indonesia, mungkinkah i-mode melejit seperti itu? Andai dia lahir di Eropa,
mungkinkah dia bertemu Bandai? Andai dia di Amerika, mungkinkah orang peduli
untuk mengakses internet lewat layar supermini di ponsel (sementara sudah
terbiasa dengan layar lebar di komputer)? It’s about
luck.

Dan ini yang menarik, keberuntungan
menempel pada orang! Semua kondisi menguntungkan itu ada di Jepang, tapi kenapa
DoCoMo yang berhasil memanfaatkannya? Karena orang-orang yang memegang posisi
kunci di DoCoMo mampu segera mengenali peluang keberuntungan itu.

Setiap hari kita semua bertemu peluang.
Orang yang hari ini Anda temui mungkin membawa peluang. Bis yang Anda tumpangi,
juga membawa peluang. Beras mahal yang terjadi saat ini, juga membawa peluang.
Semua kejadian random (yang sebenarnya tidak random karena ada ketentuan takdir
Tuhan) menciptakan banyak peluang. Orang-orang tertentu ternyata lebih mampu
menarik keuntungan dari peluang itu. Inilah si orang-orang beruntung.

Survey yang dilakukan Jencks dan
kawan-kawan dari Educational Policy Research at Harvard di awal tahun 1970
menunjukkan bahwa hanya 12 hingga 15 persen saja orang yang lebih inferior
dibanding orang lain. Umumnya setara. Maka, kalau Anda sekarang bekerja,
sadarilah bahwa banyak orang yang setara dengan Anda dan tidak seberuntung Anda.
Ada faktor ‘luck’ yang menyebabkan Anda diterima, lainnya tidak. Banyak
kenyataan, bila ada dua lulusan perguruan tinggi yang sama-sama hebat, yang satu
beruntung mendapat tempat kerja yang nyaman, gaji besar, dan penuh dukungan
terhadap kebebasan berkreasi, sementara satu yang lainnya mendapat tempat kerja
yang sulit, atasan yang sinis, bergaji kecil pula. Padahal mereka itu relatif
setara, bahkan bisa jadi orang kedua tadi lebih pintar, lebih tekun, dan lebih
hebat. Sayangnya orang ini kurang beruntung!

Meningkatkan keberuntungan

Sekeping uang tergeletak di jalan.
Donald Bebek melewati jalan itu. Dia tidak tahu ada uang tergeletak di jalan. Si
Untung Bebek melewati jalan yang sama. Tepat dua langkah sebelum uang tersebut
dia tak sengaja melihat ke bawah. “Nemu uang!” kata si Untung. Uang yang sama,
di jalan yang sama, dengan kondisi yang relatif sama. Dan si Untung yang
beruntung. (Donald juga masih beruntung, dia punya pacar yang cantik dan baik
bernama Desi bebek. Mungkin si Desi ini yang paling tidak beruntung.
Haha)

Orang dengan jenis si Untung ini
mungkin memiliki kemampuan seperti halnya Panji, si pawang ular, yang bisa
mendeteksi keberadaan seekor ular dari jarak jauh. Namun saya yakin juga dia
punya karakter yang menjadikannya beruntung (salah satunya adalah sikapnya yang
optimis dan gembira sehingga membuat segalanya tampak menguntungkan, dan jadilah
keberuntungan datang betulan kepada dia).

Saya percaya bahwa kita bisa
meningkatkan keberuntungan. Dengan kecerdasan aspirasi, kita menjadi peka
terhadap semua hal yang membantu terwujudnya impian kita. Dengan kecerdasan
spiritual kita yakin bahwa kejadian yang tampak random itu sebenarnya bukanlah
random (Tuhan Maha Mengatur), sehingga kita yakin bahwa do’a menjadi penting
untuk menarik ‘keberuntungan’, sedekah menjadi penting untuk menarik
keberuntungan, berbuat baik juga menjadi penting untuk menarik keberuntungan,
dan sebagainya. Dengan kecerdasan power kita menjadi peka terhadap peluang yang
bisa dimanfaatkan. Dengan kecerdasan emosi, kita jadi mau untuk menindaklanjuti
peluang yang terbuka. Dan kreatifitas daya cipta kecerdasan intelektual membuat
kita mampu mengatasi problem-problem yang muncul.

Keberuntungan itu seperti bermain
sepakbola. Kita punya tujuan yang jelas, yaitu mencetak gol. Lalu sebagai pemain
kita harus terus bergerak mencari posisi yang menguntungkan. Suatu ketika bola
–mungkin- akan lewat di depan kita (ini namanya keberuntungan!). Kita
tendang, dan… belum gol. Lalu kita berlari-lari lagi mencari posisi, dan
menyiasati gerakan lawan. Lalu bola melintas lagi di depan kita. Kita tendang,
dan… gol! Jika kita punya cita-cita (aspirasi), punya semangat dan keyakinan
(spiritual), punya ketabahan (emosi), punya siasat (power), dan punya kemampuan
menendang ala David Beckham (intelektual), maka kondisi lapangan dan
permainan saat itu bisa mendatangkan keberuntungan bagi kita. (Selanjutnya
kenapa Beckham lebih laris sebagai bintang iklan dibandingkan Figo, dsb, yah
itulah keberuntungan dari Yang di Atas, yang ini sih belum bisa
dimodelkan.)

Dan DoCoMo beruntung
memiliki orang-orang yang bisa menarik keberuntungan datang kepadanya. It’s
about luck.

“AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI…

Monday, November 19th, 2007

"AKU TAK SELALU  MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI…,

OLEH KARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YG AKU DAPATKAN"

Kata-kata  diatas  merupakan  wujud  syukur. Syukur merupakan kualitas hati
yang  terpenting.  Dengan  bersyukur  kita   akan  senantiasa diliputi rasa
damai, tentram   dan  bahagia.  Sebaliknya,  perasaan   tak  bersyukur  akan
senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan  tak bahagia.

Ada dua hal yang sering membuat  kita tak bersyukur.
Hal Pertama :
Kita  sering  memfokuskan diri pada apa yang  kita inginkan, bukan pada apa
yang  kita miliki. Katakanlah anda telah memiliki  sebuah rumah, kendaraan,
pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda  masih merasa kurang.
Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan.  Anda begitu terobsesi
oleh  rumah  yang  besar  dan  indah,  mobil  mewah,  serta  pekerjaan yang
mendatangkan   lebih  banyak  uang.  Kita  ingin  ini  dan  itu.  Bila  tak
mendapatkannya  kita  terus  memikirkannya.  Tapi  anehnya,  walaupun sudah
mendapatkannya,  kita  hanya  menikmati  kesenangan  sesaat. Kita tetap tak
puas,   kita  ingin  yang  lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang
kita  miliki,  kita tak pernah menjadi "KAYA" dalam arti yang sesungguhnya.

Mari  kita  luruskan  pengertian   kita  mengenai  orang "kaya". Orang yang
"kaya"  bukanlah  orang  yang memiliki  banyak hal, tetapi orang yang dapat
menikmati  apapun  yang  mereka  miliki.  Tentunya  boleh-boleh  saja  kita
memiliki  keinginan,  tapi  kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan
tak   tenteram.  Kita  dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa
yang  sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan
yang  Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.
Pusatkanlah  perhatian  Anda  pada   sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan
orang-orang  di  sekitar  Anda.  Mereka   akan  menjadi lebih menyenangkan.
Seorang  pengarang  pernah  mengatakan,  "Menikahlah dengan orang yang Anda
cintai,setelah  itu cintailah orang yang  Anda nikahi." Ini perwujudan rasa
syukur.

Ada  cerita  menarik mengenai  seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat
membeli  sepatu, padahal  sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat
seseorang  yang  tak   mempunyai  kaki,  tapi tetap ceria. Saat itu juga si
kakek berhenti mengeluh  dan mulai bersyukur.

Hal kedua:
yang    sering   membuat    kita   tak   bersyukur   adalah   kecenderungan
membanding-bandingkan  diri kita  dengan orang lain. Kita merasa orang lain
lebih  beruntung.  Kemanapun  kita   pergi,  selalu  ada  orang  yang lebih
pandai,lebih tampan, lebih cantik, lebih  percaya diri, dan lebih kaya dari
kita.

Saya ingat, pertama kali bekerja  saya senantiasa membandingkan penghasilan
saya  dengan  rekan-rekan  semasa  kuliah. Perasaan ini membuat  saya resah
dan  gelisah.  Sebagai  mantan   mahasiswa  teladan  di kampus, saya merasa
gelisah   setiap  mengetahui  ada  kawan   satu  angkatan  yang  memperoleh
penghasilan   di   atas   saya.  Nyatanya,  selalu   saja  ada  kawan  yang
penghasilannya melebihi saya.

Saya  menjadi  gemar   berganta-ganti  pekerjaan,  hanya  untuk mengimbangi
rekan-rekan  saya.  Saya  bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang
penting  gajinya lebih  besar. Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak
akan  pernah ada  habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya
dapatkan. Kini  saya sangat menikmati pekerjaan saya.

Rumput  tetangga  memang  sering   kelihatan  lebih  hijau  dari  rumput di
pekarangan  sendiri.  Ada  cerita  menarik  mengenai dua pasien rumah sakit
jiwa.   Pasien  pertama  sedang  duduk  termenung  sambil menggumam, "Lulu,
Lulu."  Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan  masalah yang dihadapi
orang   ini.  Si  dokter  menjawab,  "Orang ini jadi gila  setelah cintanya
ditolak  oleh  Lulu." Si pengunjung manggut-manggut, tapi  begitu lewat sel
lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus  memukulkan kepalanya di
tembok  dan  berteriak, "Lulu, Lulu". "Orang ini juga  punya masalah dengan
Lulu?   keheranan.  Dokter  kemudian  menjawab,   "Ya, dialah yang akhirnya
menikah dengan Lulu."

Hidup  akan lebih bahagia kalau  kita dapat menikmati apa yang kita miliki.
Karena itu bersyukur merupakan  kualitas hati yang tertinggi.

Saya ingin  mengakhiri tulisan ini dengan  cerita mengenai seorang ibu yang
sedang  terapung  di  laut  karena kapalnya  karam, namun tetap berbahagia.
Ketika   ditanya  kenapa  demikian,  ia menjawab,  "Saya mempunyai dua anak
laki-laki.  Yang  pertama  sudah  meninggal,  yang  kedua   hidup  di tanah
seberang.  Kalau  berhasil  selamat,  saya  sangat  bahagia  karena   dapat
berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya  juga
akan  berbahagia   karena  saya  akan  berjumpa dengan anak pertama saya di
surga."

Ingatlah  :"Diatas  langit   masih ada langit, so rendahkan hati untuk bisa
menikmati dasar samudra "
.

SOICHIRO HONDA

Monday, November 19th, 2007

SOICHIRO HONDA : "Lihat Kegagalan Saya"

Dari mailist seberang

Semoga bermanfaat

Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu terbentur pada Honda, baik berupa mobil maupun motor. Merk kendaran ini menyesaki padatnya lalu lintas, sehingga layak dijuluki "raja jalanan".

Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri "kerajaan" Honda - Soichiro Honda - diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang gelar insinyur, lebih-lebih Profesor seperti halnya para guru besar. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru. "Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya disekitar mesin, motor dan sepeda," tutur tokoh ini, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengindap lever.

Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun ia trus bermimpi dan bermimpi…

Kecintaannya kepada mesin, mungkin ‘warisan’ dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi cathut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya.

Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam diri berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya ingin menyaksikan pesawat terbang.

Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif. Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya rendah diri.

Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja Hart Shokai Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya.

Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama.

Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang dipilih? Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel.

Karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah - pagi hari, ia langsung ke bengkel, mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah.

"Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya," ujar Honda, yang gandrung balap mobil. Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan.

Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Eh malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali.

Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal.

Akhirnya, tahun 1947,setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapatmenjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, "sepeda motor" - cikal bakal lahirnya mobil Honda - itu diminati oleh para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok. Disinilah, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobinya, menjadi "raja" jalanan dunia, termasuk Indonesia.

Soichiro Honda mengatakan, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. "Orang melihat kesuksesan saya yang hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya", tuturnya. Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru dan berusahalah untuk merubah mimpi itu menjadi kenyataan.

Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun berasal dari keluarga miskin. Jadi buat apa kita putus asa bersusah hati merenungi nasib dan kegagalan. Tetaplah tegar dan teruslah berusaha, lihatlah Honda sang “Raja” jalanan.

5 Resep keberhasilan Honda :
1. Selalulah berambisi dan berjiwa muda.
2. Hargailah teori yang sehat, temukan gagasan baru, khususkan waktu       memperbaiki produksi.
3. Senangilah pekerjaan Anda dan usahakan buat kondisi kerja Anda senyaman mungkin.
4. Carilah irama kerja yang lancar dan harmonis.
5. Selalu ingat pentingnya penelitian dan kerja sama.

Mengapa mereka tidak ahli tapi sukses ?

Monday, November 19th, 2007

Mengapa mereka tidak ahli tapi sukses
?

Sumber :
Milis Manager Indonesia
 

Jika anda
tidak ahli memasak apakah mungkin anda sukses bisnis rumah makan ?

Demikianlah
pertanyaan yang seringkali muncul ketika ada orang yang
tidak ahli dalam
melakukan sesuatu hal, tapi bisa sukses di bisnis tersebut.
Di sekeliling
kita ada orang tidak ahli memotong rambut tapi bisa sukses
berbisnis salon,
ada orang tidak mahir bahasa Inggris, bisa mendirikan
kursus Bahasa Inggris,
tidak tahu soal perbengkelan, usaha bengkelnya
sukses.

A. Khoerusalim
adalah contoh seorang yang mengaku tidak tahu bagaimana cara
membuat donut,
tapi kita tahu Country Donuts adalah bisnis utamanya yang
berkembang sangat
pesat, jauh meninggalkan bisnis donut milik orang lain
yang sudah mendapat
sertifikat mahir kursus membuat donuts.

Sebaliknya ada orang ahli
komputer, mendirikan usaha komputer kurang laku,
guru Bahasa Inggris
mendirikan kursus bahasa Inggris kurang berkembang,
banyak lulusan kursus
perbengkelan, salon kecantikan dan lain-lain, malah
usahanya kurang
berkembang.

Ketika kita mencoba mencari jawaban mengapa itu bisa terjadi,
sebagian orang
akan mengatakan "yach memang itulah nasib" mitos ini merupakan
penghambat

terbesar
bagi kesuksesan seseorang .

Untuk menelaah mengapa orang tidak ahli
"membuat barang tertentu" bisa
sukses menjalankan bisnis di bidang "barang
tertentu" tersebut, mari kita
simak pertanyaan berikut:

Apakah untuk
bisa mendirikan klinik atau rumah sakit, anda harus menjadi
dokter terlebih
dahulu ?
Apakah klinik milik dokter selalu lebih sukses dibanding yang bukan
milik
seorang dokter?
Apakah bengkel milik mekanik selalu lebih sukses
dibanding yang milik orang
tidak ahli mekanik?
Apakah orang yang hobby
fotografi selalu lebih sukses dalam menjalankan
usaha studio foto dibanding
mereka yang tidak hobby fotografi ?
Bahwa ternyata, untuk sukses dalam
menjalankan bisnis, anda tidak harus ahli
di bidangnya. Juga tidak harus
sesuai hobby. Yang penting adalah anda punya
minat yang sangat kuat untuk
memajukan bisnis tersebut.

Hati-hatilah jika anda sekarang tengah
bergulat mencoba memajukan bisnis
yang sesuai dengan hobby atau keahlian
anda, karena acapkali orang-orang
yang ahli atau hobby dalam bidang tertentu,
cenderung sulit mendelegasikan
pekerjaan yang sudah jadi keahliannya. Mereka
yang sangat ahli, kerapkali
menganggap orang lain tidak bisa melakukan
pekerjaan sebaik mereka. Keluhan
mereka yang paling umum adalah,"wah, sulit
sekali mendapatkan orang yang
bisa bekerja baik dan bekerja keras seperti
saya".

Pertanyaan yang menggelitik adalah, mengapa mereka berhasil dalam
bisnis
padahal tidak ahli di bidang itu ? Inilah beberapa hal yang layak
anda
renungkan.

Pertama, mereka yang tidak ahli dalam bidang tertentu
tapi bisa sukses
adalah karena mereka selalu fokus memajukan bisnisnya, bukan
pada masalah
teknik bekerjanya. Mereka percaya bahwa ada orang lain yang
sangat ahli yang
bisa menjadi bagian dari organisasi perusahaannya. Mereka
memberikan
kesempatan timnya untuk meningkatkan kualitas kerjanya. Mereka
tidak pernah
takut, orang yang pintar bekerja itu akan pindah atau keluar
untuk menjadi
pesaingnya. Karena sesungguhnya, bisnis apapun apabila
berkembang cukup
baik, pasti akan mendatangkan pesaing.

Kedua, mereka
yang tidak ahli dalam pekerjaan tertentu, selalu mengembangkan
dirinya
"bekerja" sebagai pemimpin. Yang selalu ia pelajari adalah bagaimana
bisa
memimpin satu orang, dua orang, hingga ribuan orang.

Ketiga, terkait
dengan sikap kepemimpinannya, mereka sangat pandai
mendelegasikan

pekerjaan.
Setiap kali mengerjakan sesuatu, yang mereka pikirkan adalah bagaimana

supaya
secepatnya bisa didelegasikan ke orang lain.

Keempat, mereka pintar
bekerjasama dengan banyak orang.

Ada

orang yang bisa
bekerjasama dengan
orang-orang tertentu saja, tapi mereka yang sukses
berbisnis sangat cepat
memutuskan untuk bekerjasama atau tidak bekerjasama
dengan orang
lain.

Kelima, mereka pandai mengembangkan sistem bisnis. Awalnya
kelangsungan
bisnisnya sangat tergantung pada dirinya, namun dalam
perkembangan
selanjutnya, sistemlah yang membuat bisnisnya berjalan. Mereka
membangun
sistem pemasaran, sistem keuangan, sistem pengembangan SDM
yang

Keenam, mereka pandai mengelola waktu. Orang-orang sukses pasti
sangat
cermat dalam memanfaatkan waktu hidupnya. Mereka sangat efektif
dalam
berbicara, menulis dan berbagai kegiatannya.

Ketujuh, mereka
selalu mengembangkan relasi (relationship). Bahwa kunci
sukses mereka dalam
menjalankankan bisnis adalah membangun relasi dengan
banyak pihak. Mereka
adalah orang yang tidak suka berlama-lama duduk di
kantor. Kegiatan utama
mereka adalah berhubungan dengan banyak orang yang
potensial untuk
bekerjasama.

Nah, dari tujuh hal di atas, semakin jelas bahwa untuk
sukses anda tidak perlu ahli dalam

teknik
tertentu tapi yang lebih penting adalah mampu mengelola bisnisnya.

Kisah Dua Ekor Katak

Monday, November 19th, 2007

Kisah Dua Ekor
Katak

(Hidup itu sebuah
berkat, bagikanlah)

Di
bawah ini tulisan T.C. Hamlett, suatu kisah indah dengan bahasa yang sangat
sederhana tetapi kaya dengan pesan kehidupan:

 

Dua
ekor katak terjatuh ke dalam sepanci susu

(atau demikianlah apa
yang saya dengar).

Pinggiran panci itu
berkilat dan curam - susunya dalam dan dingin.

“Oh,
apalah gunanya?” kata katak no.1, “Sudah nasib, tidak ada yang menolong. Selamat
tinggal temanku, selamat tinggal dunia yang menyedihkan!”

Dan
dengan berurai air mata, ia pun tenggelam.

Tetapi katak no. 2,
dengan sikap yang lebih gigih, terus mengayuh dalam
kepanikan,

sambil membersihkan
wajahnya dan mengeringkan matanya yang keciprat susu.

“Paling tidak aku akan
berenang sebentar,” katanya

(atau demikianlah yang
saya dengar),

“Dunia tidak akan
terbantu banyak, jika ada satu lagi katak yang mati.”

Satu
dua jam ia terus mengayuh dan berenang.

Tak
sedikit pun ia mengeluh, melainkan terus mengayuh dan
berenang,

dan
berenang dan mengayuh,

kemudian ia berhasil
melompat keluar dari susu yang telah menjadi mentega!

 

Dua
pesan yang perlu ditangkap adalah bahwa pertama, keputusasaan, apa pun
alasannya, hanya akan membuat orang tidak berkembang, terus mengeluh dan
memprotes, bahkan undur

atau
mati; tetapi ketekunan dan kesabaran selalu membuahkan hasil. Kedua, dukungan
dalam hidup bersama bagaikan roh yang memberi kekuatan dan daya untuk
berjuang.