It’s about luck

Bill Gates dari Microsoft
beruntung, IBM tidak menyadari betapa hebatnya masa depan komputer pribadi.
Karena itu IBM setuju untuk membayar jasa pembuatan sistem operasi MS-DOS
sebesar 1 juta dolar, sementara Bill Gates boleh tetap menjualnya ke pihak lain.
Sepuluh tahun kemudian Bill Gates menjadi orang terkaya di dunia.

Steve Jobs dari Apple juga beruntung.
Para petinggi Xerox tidak tahu bahwa benda bernama ‘mouse’ dan GUI (Graphical
User Interface) yang dibuat oleh para jenius Xerox adalah harta karun tak
ternilai yang terpendam. Xerox dengan ringan hati memberikannya kepada Apple
keberuntungan jutaan dolar dengan lahirnya Macintosh yang menggunakan mouse
tersebut.

Demikian pula disampaikan John Beck
penulis DoCoMo, Japan’s Wireless Tsunami bahwa menurut para pendiri
DoCoMo mereka bisa sukses karena keberuntungan. DoCoMo beruntung karena punya
pemimpin visioner Keiji Tachikawa, presiden perusahaan yang tidak sabaran Kouji
Ohboshi, anak buah yang punya daya kreasi meluap Keiichi Enoki, juga talenta
tinggi Mari Matsunaga. Dalam satu kondisi yang unik mereka mampu melejitkan
DoCoMo dari divisi telepon di dalam mobil yang merugi, menjadi perusahaan telpon
seluler yang paling berhasil berjualan data melalui layanan i-mode dan FOMA
(yang hingga sekarang masih gagal ditiru perusahaan lain di dunia).

Bagaimana mereka bisa
beruntung? Mengapa perusahaan seluler sejenis DoCoMO di Amerika maupun Eropa
gagal mengambil keuntungan serupa padahal mengeluarkan biaya investasi yang juga
sama besar? Jawabnya, kata John Beck, adalah keberuntungan. It’s about luck.
DoCoMo beruntung internet belum populer di masyarakat Jepang waktu itu.
Beruntung pula sedang terjadi krisis ekonomi sehingga perbankan sangat antusias
menyambut sistem pembayaran melalui i-mode. Beruntung juga belum ada standard.
Beruntung memilih c-HTML dan bukan WAP sebagai format i-mode. Juga beruntung
dengan adanya kartun Bandai di Jepang.

Dan inilah dia, Bandai lah nyawa tak
disangka dari i-mode. Sebelumnya para ahli strategi bisnis i-mode menembak
sasaran para profesional yang memerlukan layanan perbankan. Layanan ini disambut
antusias, namun tidak banyak. Yang justru populer adalah hal remeh yang
sebelumnya tak disangka : ringtone dan screensaver. Dan para ahli strategi
bisnis DoCoMo segera menerima kenyataan, layanan ideal dan keren buat para
profesional itu bukanlah penggerak utama. Justru layanan kelas rakyat yang
kurang keren bernama ringtone dan screensaver itu. Lalu Bandai datang dengan tak
disangka, mereka punya produk mainan semacam berjudul WonderSwan yang merupakan
networking game dan bisa dimainkan lewat internet. WonderSwan inilah killer
application seperti halnya spreadsheet VisiCalc di jaman awal munculnya PC.
Sejak saat itu Bandai menjadi terdekat i-mode DoCoMo.

Andai DoCoMo lahir di
Indonesia, mungkinkah i-mode melejit seperti itu? Andai dia lahir di Eropa,
mungkinkah dia bertemu Bandai? Andai dia di Amerika, mungkinkah orang peduli
untuk mengakses internet lewat layar supermini di ponsel (sementara sudah
terbiasa dengan layar lebar di komputer)? It’s about
luck.

Dan ini yang menarik, keberuntungan
menempel pada orang! Semua kondisi menguntungkan itu ada di Jepang, tapi kenapa
DoCoMo yang berhasil memanfaatkannya? Karena orang-orang yang memegang posisi
kunci di DoCoMo mampu segera mengenali peluang keberuntungan itu.

Setiap hari kita semua bertemu peluang.
Orang yang hari ini Anda temui mungkin membawa peluang. Bis yang Anda tumpangi,
juga membawa peluang. Beras mahal yang terjadi saat ini, juga membawa peluang.
Semua kejadian random (yang sebenarnya tidak random karena ada ketentuan takdir
Tuhan) menciptakan banyak peluang. Orang-orang tertentu ternyata lebih mampu
menarik keuntungan dari peluang itu. Inilah si orang-orang beruntung.

Survey yang dilakukan Jencks dan
kawan-kawan dari Educational Policy Research at Harvard di awal tahun 1970
menunjukkan bahwa hanya 12 hingga 15 persen saja orang yang lebih inferior
dibanding orang lain. Umumnya setara. Maka, kalau Anda sekarang bekerja,
sadarilah bahwa banyak orang yang setara dengan Anda dan tidak seberuntung Anda.
Ada faktor ‘luck’ yang menyebabkan Anda diterima, lainnya tidak. Banyak
kenyataan, bila ada dua lulusan perguruan tinggi yang sama-sama hebat, yang satu
beruntung mendapat tempat kerja yang nyaman, gaji besar, dan penuh dukungan
terhadap kebebasan berkreasi, sementara satu yang lainnya mendapat tempat kerja
yang sulit, atasan yang sinis, bergaji kecil pula. Padahal mereka itu relatif
setara, bahkan bisa jadi orang kedua tadi lebih pintar, lebih tekun, dan lebih
hebat. Sayangnya orang ini kurang beruntung!

Meningkatkan keberuntungan

Sekeping uang tergeletak di jalan.
Donald Bebek melewati jalan itu. Dia tidak tahu ada uang tergeletak di jalan. Si
Untung Bebek melewati jalan yang sama. Tepat dua langkah sebelum uang tersebut
dia tak sengaja melihat ke bawah. “Nemu uang!” kata si Untung. Uang yang sama,
di jalan yang sama, dengan kondisi yang relatif sama. Dan si Untung yang
beruntung. (Donald juga masih beruntung, dia punya pacar yang cantik dan baik
bernama Desi bebek. Mungkin si Desi ini yang paling tidak beruntung.
Haha)

Orang dengan jenis si Untung ini
mungkin memiliki kemampuan seperti halnya Panji, si pawang ular, yang bisa
mendeteksi keberadaan seekor ular dari jarak jauh. Namun saya yakin juga dia
punya karakter yang menjadikannya beruntung (salah satunya adalah sikapnya yang
optimis dan gembira sehingga membuat segalanya tampak menguntungkan, dan jadilah
keberuntungan datang betulan kepada dia).

Saya percaya bahwa kita bisa
meningkatkan keberuntungan. Dengan kecerdasan aspirasi, kita menjadi peka
terhadap semua hal yang membantu terwujudnya impian kita. Dengan kecerdasan
spiritual kita yakin bahwa kejadian yang tampak random itu sebenarnya bukanlah
random (Tuhan Maha Mengatur), sehingga kita yakin bahwa do’a menjadi penting
untuk menarik ‘keberuntungan’, sedekah menjadi penting untuk menarik
keberuntungan, berbuat baik juga menjadi penting untuk menarik keberuntungan,
dan sebagainya. Dengan kecerdasan power kita menjadi peka terhadap peluang yang
bisa dimanfaatkan. Dengan kecerdasan emosi, kita jadi mau untuk menindaklanjuti
peluang yang terbuka. Dan kreatifitas daya cipta kecerdasan intelektual membuat
kita mampu mengatasi problem-problem yang muncul.

Keberuntungan itu seperti bermain
sepakbola. Kita punya tujuan yang jelas, yaitu mencetak gol. Lalu sebagai pemain
kita harus terus bergerak mencari posisi yang menguntungkan. Suatu ketika bola
–mungkin- akan lewat di depan kita (ini namanya keberuntungan!). Kita
tendang, dan… belum gol. Lalu kita berlari-lari lagi mencari posisi, dan
menyiasati gerakan lawan. Lalu bola melintas lagi di depan kita. Kita tendang,
dan… gol! Jika kita punya cita-cita (aspirasi), punya semangat dan keyakinan
(spiritual), punya ketabahan (emosi), punya siasat (power), dan punya kemampuan
menendang ala David Beckham (intelektual), maka kondisi lapangan dan
permainan saat itu bisa mendatangkan keberuntungan bagi kita. (Selanjutnya
kenapa Beckham lebih laris sebagai bintang iklan dibandingkan Figo, dsb, yah
itulah keberuntungan dari Yang di Atas, yang ini sih belum bisa
dimodelkan.)

Dan DoCoMo beruntung
memiliki orang-orang yang bisa menarik keberuntungan datang kepadanya. It’s
about luck.

Leave a Reply