Konosuke Matsushita - Andai tak dicoba

Di pabrik Matsushita kami disuguhi berbagai produk paling baru seperti HDTV, home theatre, film 3D, hingga ponsel WCDMA ber MP3 yang sangat jernih bunyi musiknya (ini tahun 2001, saat ponsel Nokia yang kubawa masih berlayar hijau!). Jelas sangat mengesankan. Namun masih ada yang lebih mengesankan, yaitu saat kami mengunjungi museum Matsushita. Bagi rekan serombongan mungkin museum ini tak terlalu mengesankan, sebaliknya bagi saya justru sangat mengesankan. Museum ini menceritakan kisah awal Matsushita membangun perusahaannya. Perusahaan yang kini hampir seabad berdiri (dimulai 1917 saat usia masih 22 tahun) ternyata dimulai dari membuat fitting lampu! (Hal ini semakin meyakinkan diri saya bahwa sesuatu yang besar awalnya dimulai dari sesuatu yang kecil!)

Salah satu kisah lain yang mengesankan adalah saat dia bertahan tidak mem-PHK karyawan sewaktu resesi ekonomi melanda Jepang. Untuk menghemat biaya, Matsushita memberlakukan kerja setengah hari dengan gaji tetap tidak dipotong. Tujuannya adalah membatasi overhead saat permintaan barang menurun, sambil berusaha keras menjual persediaan di gudang. Kisah ini sangat berkesan di hati saya, karena menunjukkan sikap Matsushita yang humanis dan sungguh bijaksana. Pulang dari kunjungan tersebut, Matsushita langsung menjadi salah satu hero saya (dan menjadi inspirasi bagi saya untuk memulai beberapa usaha).

Suatu ketika saya mendapatkan buku berjudul “Matsushita Konosuke : Pegawai Toko Sepeda yang Menjadi Raja Elektrik Jepang” terbitan Grasindo, cetakan kedua 2004. Saya sudah tahu bahwa Matsushita tidak pernah sekolah formal dan berasal dari keluarga miskin. Setelah membaca buku itu baru jelas bahwa dia sebenarnya berasal dari keluarga tuan tanah, namun ayahnya bangkrut saat spekulasi bisnis beras yang membuat keluarganya jatuh miskin. Matsushita kecil kemudian bekerja di toko sepeda, lalu pindah ke perusahaan instalasi listrik. Pernah dia mengambil kelas teknik malam hari, tapi tidak tamat.

Dari buku itu saya baru tahu bahwa ketika Matsushita mulai merintis perusahaannya sendiri, ternyata produk fitting lampu buatannya itu… gagal! Namun bisnis gagal tersebut mengantarnya mendapat bisnis lain yang kemudian menjadi cikal perusahaan besar Matsushita Electric. Inilah kisah kegagalan Konosuke Matsushita yang saya cuplikkan dari buku tersebut.

Matsushita keluar dari perusahaan intsalasi listrik tempat dia sudah bekerja selama 7 tahun. Alasannya, jabatan sebagai petugas pemeriksa yang bergaji besar dengan pekerjaan ringan justru membuatnya merasa bosan. Rekan-rekannya merasa aneh dengan sikap Matsushita itu.

Kemudian bersama 2 rekan, yaitu Hayashi dan Morita, serta 1 adik ipar yaitu Toshio, Konosuke Matsushita membuat pabrik fitting lampu pada bulan Juni 1917. Ternyata mereka belum tahu dari bahan apa adonan hitam untuk fitting tersebut. “Mungkin adonan itu terdiri dari aspal yang dicampur bubuk batu dan asbes,” pikir mereka. Setelah dicoba ternyata gagal. Maka mereka berkeliling bertanya ke pabrik lain untuk mencari tahu adonan hitam bahan fitting tersebut. Tentu saja ditolak! Diam-diam Konosuke dan Hayashi memungut pecahan adonan yang sudah mengeras dan menelitinya sendiri. Tapi semuanya itu sia-sia.

Tak lama setelah itu mereka mengetahui ada seorang kenalan Hayashi yang dulu melakukan penelitian tentang adonan hitam tersebut. Teman itu ternyata sudah tak berminat lagi membuat adonan hitam, maka dia mengajarkan semua yang pernah ditelitinya kepada Konosuke dan Hayashi. Semuanya itu membuat keduanya merasa terbang ke awan karena gembira.

Pada pertengahan Oktober tahun itu sedikit demi sedikit fitting lampu bisa diselesaikan. Sayang sekali, ketika berusaha menjual fitting tersebut ke pedagang pengecer ternyata harganya tidak bagus. Untuk 100 buah fitting lampu hanya dihargai tidak lebih dari 10 yen. Belum lagi penolakan dari banyak pedagang karena pabrik Konosuke masih baru. Setelah 10 hari menawarkan dan kurang berhasil maka pada akhir bulan Oktober kedua rekan Konosuke undur diri dari bisnis tersebut.

Bulan November tiba, Konosuke terus membuat fitting lampu dengan modal yang terus menipis. Konosuke mulai ragu. Bulan Desember pun tiba. Tetapi Konosuke belum tahu barang elektronik apa yang sebaiknya dibuatnya. “Mungkin sebaiknya aku balik lagi bekerja di Perusahaan Listrik Osaka. Tapi… nggak enak juga minta tolongnya,” pikirnya diam-diam demi kebaikan Mumeno, istrinya.

Pada suatu hari Konosuke didatangi oleh seorang pegawai perusahaan alat listrik. Orang itu meminta tolong kepada Konosuke, katanya, “Kami ingin Bapak membuat tatakan kipas angin dari adonan hitam bahan pembuat fitting.”

“Tatakan kipas angin? Apa itu?” tanya Konosuke.

Kemudian orang tersebut menceritakan tentang dudukan kipas angin tempat menaruh tombol-tombol. Dia mengeluarkan barang contoh, sebuah benda bulat dengan diameter 10 senti, tebalnya 1 senti, dan berlubang di tengahnya. Selain itu ada kira-kira 10 lubang kecil lainnya di beberapa tempat. “Seperti Bapak lihat, tatakan ini kurang baik. Karena terbuat dari porselen jadi mudah pecah. Untuk itu pabrik kipas angin Kawakita Denki ingin mencoba menggantinya dengan tatakan yang terbuat dari bahan pembuat fitting lampu. Kira-kira bagaimana Pak, apa Bapak bersedia membuatnya?”

“Kira-kira berapa banyak?” tanya Konosuke.

“Untuk percobaan, tahun ini sekitar 1000 buah. Kalau hasilnya baik, tahun depan dan tahun-tahun berikutnya bisa 20-30 ribu buah,” jawabnya lagi.

Jadi, 20-30 ribu buah pertahun? Mendengar itu Konosuke langsung menyanggupi tawaran itu. Konosuke gembira sekali.

Bulan Desember tahun itu Konosuke berhasil memenuhi pesanan 1000 tatakan dengan bayaran 160 yen. Hitung-hitung untungnya adalah 80 yen. Berbeda dengan fitting lampu, tatakan itu tidak memerlukan bahan logam, sehingga biaya produksinya lebih rendah. Pesanan tatakan kipas angin itu terus datang tanpa henti, sehingga keuntungan yang didapat Konosuke pun semakin banyak. Selanjutnya Konosuke mulai membuat ‘attachment plug’ yang digunakan untuk memasang lampu dengan mengambil listrik dari lampu lain. Kemudian Konosuke membuat fitting 2 lampu yang bagus, bahkan mendapat paten dari kreasi tersebut. Lalu fitting 3 lampu. Kemudian bikin lampu sepeda, lalu radio, dan seterusnya menjadi perusahaan pembuat barang elektronik dan peralatan listrik yang sukses.

Get the point? Bagaimana hasil akhirnya kalau Konosuke tidak belajar membuat fitting lampu? Siapkah dia dengan pesanan tatakan kipas angin itu? Mungkinkah pesanan tatakan itu datang ke dia? Memang manusia hanya bisa berusaha sebaik-baiknya, Tuhan akan menjawab dengan cara-Nya yang halus, sering dengan kesempatan dari arah yang tak disangka.

Konosuke Matsushita. Andai tak dicoba membuat fitting lampu ….

A frail, sickly bicycle apprentice who survived unspeakable childhood tragedy, Konosuke Matsushita lacked formal education, wealth, charisma, connections and even a special talent. Yet, early hardships produced hidden strengths which opened Konosuke Matsushita’s mind to the collective wisdom of others. The author reveals how a lifelong thirst for learning fueled the passion that led this humble, shy 5-foot-5-inch humanitarian idealist to pioneer management practices and advance his philosophy that the mission of a manufacturer is to relieve poverty and create wealth, not only for shareholders, but for society.

Excerpt from the book entitled “MATSUSHITA LEADERSHIP” by Dr. John P. Kotter, Professor of Leadership at the Harvard Business School.

Leave a Reply