Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya
November 19th, 2007 by friday-13th Dalam kehidupan Kita malang harus merangkap Ada seorang paman yang baik hati Ada di sebelah rumah Mau , IA rela kota sering mengirimkan Namun,
sehari-Hari, Kita percaya bahwa kebohongan akan
Membuat manusia terpuruk
dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah
Ini justru sebaliknya. Dengan
adanya kebohongan ini, makna
Sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat
membuka Mata Kita Dan
Terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang
mampu mendorong
Mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang
Anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan
Saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi
Nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :
"Makanlah nak, aku tidak lapar" ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan
Waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu
Berharap dari ikan hasil pancingan, IA bisa memberikan sedikit makanan
Bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan
Yang segar Dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu,
Ibu duduk disamping gw Dan memakan sisa daging ikan yang masih
Menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku
Makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu
Menggunakan sumpitku Dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan
Cepat menolaknya, IA berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan
Ikan" ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
Sekarang aku sudah
masuk SMP, demi membiayai sekolah abang Dan
Kakakku, ibu pergi ke koperasi
untuk membawa sejumlah kotak korek api
Untuk ditempel, Dan hasil
tempelannya itu membuahkan sedikit uang
Untuk menutupi kebutuhan hidup. Di
kala musim dingin tiba, aku bangun
Dari tempat tidurku, melihat ibu masih
bertumpu pada lilin kecil Dan
Dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny
menempel kotak korek api. Aku
Berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok
pagi ibu masih harus
Kerja." Ibu tersenyum Dan berkata :"Cepatlah tidur
nak, aku tidak
Capek" ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku
Pergi ujian. Ketika Hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari,
Ibu yang tegar Dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama
Beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah
Selesai. Ibu dengan segera menyambutku Dan menuangkan teh yang sudah
Disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental
Tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental.
Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk
Ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :"Minumlah nak, aku tidak
Haus!" ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT
Setelah kepergian
ayah karena sakit, ibu yang
Sebagai ayah Dan
ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu,
Dia harus membiayai
kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga Kita
Pun semakin susah Dan
susah. Tiada Hari tanpa penderitaan. Melihat
Kondisi keluarga yang semakin
parah,
Yang tinggal di dekat rumahku pun membantu
ibuku baik masalah besar
Maupun masalah kecil. Tetangga yang
melihat
Kehidupan Kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku
untuk
Menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan
Nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta"
———-KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA
Setelah aku, kakakku Dan
abangku semuanya sudah tamat dari sekolah Dan
Bekerja, ibu yang sudah tua
sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak
untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit
Sayur untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Kakakku Dan abangku yang
Bekerja di luar
sedikit uang untuk membantu
Memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh
tidak mau menerima uang
Tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu
berkata : "Saya
Punya duit" ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM
Setelah Lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 Dan kemudian
Memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika
Berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja
Di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud
Membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik
Hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, IA berkata kepadaku "Aku
Tidak terbiasa" ———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH
Setelah
memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker
Lambung, harus
dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di
Seberang samudra atlantik
langsung segera pulang untuk menjenguk
Ibunda tercinta. Aku melihat ibu
yang terbaring lemah di ranjangnya
Setelah menjalani operasi. Ibu yang
keliatan sangat tua, menatap aku
Dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum
yang tersebar di wajahnya
Terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya.
Terlihat dengan jelas
Betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga
ibuku terlihat
Lemah Dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil
berlinang air
Mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi
seperti
Ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "jangan menangis
anakku,Aku
Tidak kesakitan" ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta
Menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.
Dari cerita di
atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa
Tersentuh Dan ingin
sekali mengucapkan : " Terima kasih ibu ! "
Coba dipikir-pikir teman, sudah
berapa lamakah kita tidak menelepon
ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah
kita tidak menghabiskan waktu kita
untuk berbincang dengan ayah ibu kita?
Di tengah-tengah aktivitas kita
yang padat ini, kita selalu mempunyai
beribu-ribu alasan untuk
meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita
selalu lupa akan ayah
dan ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan
dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan
pacar kita. Buktinya,
kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas
apakah dia sudah makan atau
belum, cemas apakah dia bahagia bila di
samping kita.
apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita?
Cemas apakah
ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita
sudah bahagia atau
belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita
renungkan kembali lagi..
Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu
kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di
kemudian hari.

